Terampasnya Hak-Hak pasien Akibat Praktek Dokter & Mafia Obat







Kali ini saya ajak pembaca untuk ikut berpartisipasi mencari pembuktian dari analisa sederhana saya
Sekali-kali mari kita berbuat iseng dengan datang ke praktek dokter di kota kita masing-masing. Lalu sampaikan keluhan pada dokter tersebut:

Katakan saja pada dokter tersebut bahwa perut kita terasa mual tiap kali habis makan gorengan. Sampaikan pula bahwa setiap malam perut kita mengeluarkan suara-suara aneh tertentu. Ramalan saya, dokter akan memeriksa perut kita. Setelah itu dia akan memberi sedikit saran dan... MENULIS SEJUMLAH RESEP. Saat kita tanya tentang penyakit kita, biasanya dokter memberi diagnosa tertentu tanpa memberi tahu alasan diagnosanya.

Ohya, tidak jarang dokter akan memberikan suntikan obat pada kita tanpa memberi tahu tentang jenis dan harga obat tersebut terlebih dahulu. Sebagai pasien kita hanya terbiasa percaya penuh pada kebijaksanaan dokter dalam memperlakukan tubuh kita. Setelah semua selesai, maka kita pun akan menanyakan pada dokter berapa biayanya? Dokter pun akan menyebut suatu angka tertentu. Namanya jg sedang iseng, cobalah kita tawar biaya dokter tersebut. Berani?

Keesokan harinya kita lanjutkan eksperimen kecil-kecilan kita. Datanglah ke dokter lain di kota kita masing-masing. Kepada dokter tersebut sampaikanlah keluhan yang berbeda dengan keluhan pada dokter pertama. Misalkan, sampaikan pada dokter bahwa kepala kita sering pusing. Tidak jarang dunia terasa berputar dan kita sering jatuh karenanya. Maka ritual yang mirip akan kita alami seperti percobaan pertama. Ujung-ujungnya dokter akan menulis sejumlah resep juga. Jangan lupa pada dokter yang kedua ini kita perlu "menawar" biaya juga. Dijamin kita tidak akan celaka karenanya. Dari kedua eksperimen diatas, kita sudah memperoleh beberapa jawaban atas perilaku praktek dokter yg umum terjadi di Indonesia. Kita mulai dari diagnose berbeda yang dihasilkan oleh dokter yang berbeda. Apa yg bisa kita simpulkan?

Inti dari kedua percobaan diatas adalah bahwa seringkali diagnose dokter bersifat subyektif. Tubuh kita yang sehat pun bisa didiagnose sakit. Diagnose kerap diperoleh dokter dari proses anamnesa (keluhan pasien). Masalahnya proses ini sangat subyektif. Atas kesimpulan yang kurang meyakinkan itu seorang dokter berani memberi resep obat bahkan suntikan pada pasiennya. Saat belajar biokimia kita selalu diingatkan: "Semua substansi adalah racun, yg membedakannya sebagai obat adalah dosis"

Racun-racun kimia yang berjudul obat inilah yang dipaksakan oleh para dokter untuk dikonsumsi pasiennya tanpa ada penjelasan apapun. Pernah tidak kita diajak diskusi dokter tentang manfaat dan mudharat obat yang harus kita konsumsi tersebut? Pernah tidak kita diminta persetujuan?. Karena diagnose yang tidak pasti diatas maka tidak jarang dokter menggunakan obat sebagai salah satu senjata diagnose pula. Pernah dengar dokter yang berpesan, "jika obat habis tapi belum sembuh segera datang kembali". Dibalik pesan tersebut ada sesuatu yang tidak diketahui pasien yang awam. Sesungguhnya itu adalah bukti bahwa tubuh kita sudah dijadikan "Percobaan"!

Dokter yang masih meraba-raba penyakit kita akan nekat memberikan obat hanya sekedar untuk menguji kebenaran diagnosenya. Kalo masih belum sembuh berarti diagnosenya salah. Hajar dengan obat yang lain! Begitu seterusnya. Begitu pulalah tubuh kita dijadikan eksperimen oleh para dokter. Lalu siapa yg menanggung seluruh resiko? Kita!! Bayangkan, selain tubuh kita harus terpapar berbagai obat kimia kantong kita juga harus bolong karenanya. Komplit! Makin sering dokter melakukan kesalahan makin banyak pemasukannya. Sebaliknya, bagi pasien makin teracuni dan bangkrut! Itu baru proses diagnose yang potensial menimbulkan malpraktek. Lalu bagaimana dengan obatnya sendiri? Nah, disinilah mafia sesungguhnya!

Sebelumnya kita sebagai pasien/konsumen harus menyadari betul informasi yang sering sengaja disembunyikan dokter tentang obat generik. Obat generik sesungguhnya memiliki kandungan dan khasiat yg SAMA dg obat paten! Tahukah kita bahwa obat paten yang berharga Rp 10rb sesungguhnya biaya produksinya tidak lebih dari Rp 200 saja! Bayangkanlah betapa suksesnya program kesehatan kita jika setiap dokter lebih menganjurkan menggunakan obat generik.
Tapi yang terjadi di lapangan justru sebaliknya. Dokter seolah enggan memberi resep obat generik. Bahkan seringkali terjadi proses pembodohan pasien. Lalu apa yg sesungguhnya tjd pd bisnis obat ini? Kita akan sedikit bongkar mafia obat dalam tulisan ini.

Mafia obat itu sesungguhnya sangat mengerikan karena menghalalkan segala cara. Tapi disini kita fokus pada bagian yang berkaitan dengan dokter saja. Biasanya hubungan dokter dan produsen obat melalui medrep (medical representative) atau sering disebut detailer. Medrep ini dibebani target-target tertentu oleh perusahaan. Sebagai senjatanya mereka juga berhak menawarkan diskon dan fasilitas tertentu pd rekanan. Siapa rekanan medrep? Tentu saja dokter! Namun sejak dokter dilarang "menjual" obat secara langsung pada pasien maka ada pemain lain, apotek.

Medrep biasanya mengincar dokter-dokter yang laris atau senior. Karena merasa dibutuhkan maka dokter bisa jual mahal. Tugas dokter sederhana, hanya menulis resep produksi produsen tertentu untuk suatu penyakit tertentu. Tapi tentu saja dokter deal pada produsen yang paling besar iming-iming diskon atau bonusnya. Maka berlombalah para medrep dalam membujuk dan memberi bonus pada dokter. Ingat, mereka pun kena target dari perusahaan. Alhasil bonus pun beraneka rupa. Mulai dari Uang, liburan ke luar negeri, mobil hingga wanita! Tentu dengan catatan target terpenuhi!

Dari gambaran diatas kita bisa melihat hubungan harga obat yang mahal dan mafia obat. Bonus liburan, mobil, uang dan bahkan bonus wanita para dokter tersebut sesungguhnya dibebankan pada pasien. Kitalah yg membayarnya! Itulah sebabnya harga obat di Indonesia menjadi termasuk yang termahal di dunia! Itu pula lah sebabnya para dokter tidak memberi opsi pilihan obat kepada pasiennya. Jangankan obat generik, sesama obat patenpun tidak!

Sebagai konsumen sudah sewajarnya dokter menawarkan secara terbuka obat-obat apa saja yang tersedia di pasar beserta harganya. Obat-obat tersebut sebenarnya kandungannya sama saja, hanya mereknya yang beda. Istilah yang umum dipakai untuk obat-obat itu adalah "Me to drugs". Syukur-syukur jika dokter ikut berperan menyukseskan program pemerintah terhadap obat generik. Bukan malah memboikotnya demi kepentingan pribadi. Sebagai pasien kita juga bertanggung jawab terhadap diri sendiri. Jangan hanya bisa menghujat dokter saja. Dokter juga manusia kan? :)

Sudah tidak jamannya lagi kita sebagai pasien hanya pasrah bongkokan pada dokter kita. Kita memiliki hak penuh terhadap tubuh kita! Jika bukan kita sendiri yang membela hak kita lalu siapa lagi? Maka mulai sekarang selalulah bersikap kritis pada dokter kita. Tanyakan secara terbuka apa-apa yang kita ingin tahu. Contoh, obat apa yang disuntikkan ke tubuh kita, apa alasan diagnosanya.. Apa alasan dokter memberi resep tersebut pada kita, adakah pilihan obat yang lebih murah, adakah produk generiknya? Jika ada dokter yang menolak memberikan pilihan obat generik pada kita maka karir dokter tersebut bisa tamat!

Lalu apa maksud eksperimen untuk menawar biaya berobat pada dokter? Tidak ada! Kita hanya perlu menguji dia masih dokter atau sudah jadi pedagang. Saat kita datang kembali ke dokter yang sama kita bisa membuktikannya. Jika dia berubah ketus maka dia bukan lagi seorang dokter. Kita sudah tahu hak-hak kita. Jika kita menolak menggunakan hak-hak kita, maka kita tidak layak mengeluh jika hak kita teraniaya. Mari kita berhenti berkeluh kesah tapi lebih bertanggung jawablah pada diri sendiri!

Kepada rekan-rekan para dokter kami ingin tanyakan, masihkah kalian ingat sumpah dokter kalian? Atau jangan-jangan hanya dianggap seremoni belaka? Ohya, satu hal lagi. Masih banyak dokter-dokter hebat yang masih idealis dan melayani masyarakat. Saya punya teman-temen dokter seperti itu!


Comments
0 Comments

Artikel Lain

ShareThis

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...