Konspirasi Soeharto, CIA dan Freeport





Pada sekitar tahun 1961, Presiden Soekarno gencar merevisi kontrak pengelolaan minyak dan tambang-tambang asing di Indonesia. Minimal 60% dari keuntungan perusahaan minyak asing harus menjadi jatah Indonesia. Namun kebanyakan dari mereka, gerah dengan peraturan itu. Akibatnya, skenario jahat para elite dunia akhirnya mulai direncanakan terhadap negeri tercinta, Indonesia. Pada akhir 1996, sebuah artikel yang ditulis oleh Lisa Pease dimuat dalam majalah Probe. Tulisan ini juga disimpan dalam National Archive di Washington DC. Judul tulisan tersebut adalah “JFK, Indonesia, CIA, and Freeport“

Dominasi FREEPORT atas “gunung emas” Papua dimulai sejak 1967, tapi kiprahnya di negeri ini ternyata sudah dimulai beberapa tahun sebelumnya. Lisa Pease menuliskan jika FREEPORT Sulphur (nama awal perusahaan tersebut) nyaris bangkrut ketika terjadi pergantian kekuasaan di Kuba pada 1959. Saat itu di Kuba, Fidel Castro menghancurkan rezim diktator Batista. Seluruh perusahaan asing di negeri itu dinasionalisasikan. FREEPORT Sulphur yang hendak melakukan pengapalan nikel produksi perdananya dari Kuba, terkena imbasnya. Maka terjadi ketegangan di Kuba. Menurut Lisa Pease, berkali-kali CEO FREEPORT Sulphur merencanakan upaya pembunuhan terhadap Fidel Castro, tapi berkali-kali pula gagal.

Pada Agustus 1959, Forbes Wilson-Direktur FREEPORT Sulphur melakukan pertemuan dengan Direktur pelaksana East Borneo Company, Jan van Gruisen. Dalam pertemuan itu Gruisen bercerita jika dirinya menemukan sebuah laporan penelitian atas Gunung Ersberg di Irian Barat. Laporan penelitian atas Gunung Ersberg (Gunung Tembaga) di Irian Barat tersebut ditulis Jean Jacques Dozy pada tahun 1936. Uniknya, laporan itu sebenarnya sudah dianggap tidak berguna dan tersimpan selama bertahun-tahun begitu saja di perpustakaan Belanda. Namun, Van Gruisen tertarik dengan laporan penelitian yang sudah berdebu itu dan kemudian membacanya.

Van Gruisen bercerita jika selain memaparkan keindahan alamnya, juga menulis tentang kekayaan alamnya yang begitu melimpah. Kandungan biji tembaga yang ada disekujur tubuh Gunung Ersberg itu terhampar di atas permukaan tanah, tidak tersembunyi di dalam tanah! Mendengar hal itu, Wilson sangat antusias dan segera melakukan perjalanan ke Irian Barat untuk mengecek kebenaran cerita itu. Jika saja laporan ini benar, maka perusahaannya akan bisa bangkit kembali dan selamat dari kebangkrutan yang sudah di depan mata.

Selama beberapa bulan, Forbes Wilson melakukan survey dengan seksama atas Gunung Ersberg dan juga wilayah sekitarnya. Penelitiannya ini kelak ditulisnya dalam sebuah buku berjudul The Conquest of Copper Mountain -> http://adf.ly/18UvvH

Wilson menyebut gunung tersebut sebagai harta karun terbesar! Semua harta karun itu telah terhampar di permukaan tanah! Wilson juga mendapat temuan yang nyaris membuatnya gila. Karena selain dipenuhi tembaga, gunung tersebut juga dipenuhi emas dan perak! Menurut Wilson, seharusnya gunung tersebut diberi nama GOLD MOUNTAIN, bukan Gunung Tembaga. Sebagai seorang pakar pertambangan, Wilson memperkirakan jika Freeport akan untung besar hanya dalam waktu tiga tahun saja.

Ia bergerak cepat. Pada 1 Februari 1960, FREEPORT Sulphur meneken kerjasama dengan East Borneo Company untuk mengeksplorasi gunung tersebut. Lagi-lagi FREEPORT Sulphur mengalami kenyataan yang hampir sama di Kuba. Perubahan eskalasi politik atas tanah Irian Barat tengah mengancam. Hubungan Indonesia dan Belanda telah memanas dan Soekarno malah mulai menerjunkan pasukannya di Irian Barat. Tadinya Wilson ingin meminta bantuan kepada Presiden AS John Fitzgerald Kennedy. Namun, JFK malah sepertinya mendukung Soekarno. Presiden AS, JFK mengancam Belanda akan menghentikan bantuan Marshall Plan jika ngotot mempertahankan Irian Barat.

Belanda yang saat itu memerlukan dana untuk membangun kembali negerinya dari kehancuran PD II, mengalah dan mundur dari Irian Barat. Ketika itu sepertinya Belanda tidak tahu jika Gunung Ersberg sesungguhnya mengandung banyak emas, bukan tembaga. Jika Belanda tahu, maka bantuan Marshall Plan yang diterimanya dari AS tak ada apa-apanya dibanding dengan nilai emas yang ada di gunung. Belanda mundur dari Irian Barat menyebabkan perjanjian kerjasama dgn East Borneo Company mentah kembali. Para pemimpin FREEPORT marah besar. Apalagi mendengar JFK menyiapkan bantuan ekonomi ke Indonesia sebesar 11 juta US$ via IMF & WB. Semua ini jelas harus dihentikan!

Segalanya berubah seratus delapan puluh derajat ketika Presiden JF. Kennedy tewas ditembak pada 22 November 1963. Banyak kalangan menyatakan penembakan JFK adalah konspirasi besar menyangkut kepentingan kaum Globalis di Amerika & dunia. Presiden Johnson yang menggantikan JF. Kennedy mengambil sikap yang bertolak belakang dengan pendahulunya. Presiden Johnson malah mengurangi bantuan ekonomi kepada Indonesia, kecuali kepada militernya. Tokoh di belakang Johnson dalam kampanye pemilihan presiden AS 1964, adalah Augustus C.Long, salah seorang anggota dewan direksi FREEPORT. Augustus C.Long, tokoh yang satu ini memang punya kepentingan besar atas Indonesia. Selain terkait FREEPORT, Long juga memimpin Texaco, yang membawahi Caltex (patungan dengan Standard Oil of California).

Soekarno pada 1961 memutuskan kebijakan baru kontrak perminyakan yang mengharuskan 60% labanya diserahkan kepada pemerintah Indonesia. Caltex sebagai salah satu dari tiga operator perminyakan di Indonesia jelas sangat terpukul oleh kebijakan Soekarno ini. Augustus C.Long amat marah terhadap Soekarno dan amat berkepentingan agar orang ini disingkirkan secepatnya. Augustus C. Long juga aktif di Presbysterian Hospital New York, dimana dia pernah dua kali menjadi presidennya (1961-1962). Sudah bukan rahasia umum lagi jika Presbysterian Hospital merupakan salah satu simpul pertemuan tokoh CIA.

Lisa Pease dengan menelusuri riwayat kehidupan tokoh ini. Antara 1964 sampai 1970, Long pensiun sementara sebagai pemimpin Texaco. 1965, Long terpilih sbg Direktur Chemical Bank, Rockefeller dan anggota dewan penasehat intelijen kepresidenan AS untuk luar negeri. Kedua Badan ini memiliki pengaruh sangat besar untuk menentukan operasi rahasia AS di negara-negara tertentu. Long adalah tokoh yang merancang kudeta terhadap Soekarno, dengan menggerakkan sejumlah perwira TNI AD yang disebutnya sebagai Our Local Army Friend.

Menurut pengamat sejarawan LIPI, Dr Asvi Marwan Adam, Soekarno benar-benar ingin SDA Indonesia dikelola oleh anak bangsa sendiri. Arsip Kedubes AS mengungkapkan pada 15 Desember 1965 sebuah tim pimpinan Chaerul Saleh di Cipanas membahas nasionalisasi perusahaan asing. Soeharto yang pro-pemodal asing, datang dengan helikopter dan menyatakan ke forum bahwa ia dan TNI AD tidak setuju rencana nasionalisasi itu. “Soeharto sangat berani saat itu, Bung Karno juga tidak pernah memerintahkan seperti itu,” kata Asvi.

Sebelum 1965, seorang taipan AS menemui Soekarno. Dan menyatakan keinginan berinvestasi di Papua. Tapi Soekarno menolak secara halus. “Saya sepakat dan itu tawaran menarik. Tapi tidak untuk saat ini, coba tawarkan kepada generasi setelah saya,” ujar Asvi menirukan Soekarno. Soekarno berencana modal asing baru masuk Indonesia 20 tahun lagi, setelah putra-putri Indonesia siap mengelola. Orang Indonesia belum memiliki pengetahuan tentang alamnya sendiri. Sebagai persiapan, Soekarno mengirim mahasiswa belajar ke negara-negara lain. Soekarno membuat tembok dan mempersiapkan calon pengelola negara. Tapi usaha pihak luar yang ingin mendongkel kekuasaan Soekarno juga kuat!

Pada 1964, seorang peneliti diberi akses untuk membuka dokumen penting Deplu Pakistan dan menemukan surat dari duta besar Pakistan di Eropa. Dalam surat per Desember 1964, diplomat itu menyampaikan informasi rahasia intel Belanda yang mengatakan Indonesia segera beralih ke Barat. Lisa menjelaskan maksud dari informasi itu adalah akan terjadi kudeta di Indonesia oleh partai komunis (PKI) G30SPKI. Sebab itu, TNI AD memiliki alasan kuat untuk menamatkan Partai Komunis Indonesia, setelah itu membuat Soekarno menjadi tahanan.

Telegram rahasia Deplu Negeri AS ke PBB April 1965 menyebut FREEPORT Sulphur sudah sepakat dengan Indonesia untuk penambangan puncak Erstberg Papua. Salah satu bukti - Telegram rahasia Cinpac 342, 21/1/65 21.48, yang mnyatakan ada pertemuan para panglima tinggi dan pejabat TNI AD. Pertemuan para panglima tinggi dan pejabat TNI AD Indonesia membahas rencana darurat bila Presiden Soekarno meninggal. Namun kelompok yang dipimpin Jenderal Soeharto tersebut ternyata bergerak lebih jauh dari rencana itu. Jenderal Soeharto justru mendesak TNI Angkatan Darat agar mengambil alih kekuasaan tanpa menunggu Soekarno berhalangan.

Mantan pejabat CIA, Ralph McGehee jg pernah bersaksi bahwa semuanya tentang cerita itu memang benar adanya. Maka dibuatlah PKI sebagai kambing hitam tersangka pembunuhan Tujuh Jenderal yang pro Soekarno melalui G30SPKI yang didalangi oleh PKI. Peristiwa ini dikenal oleh pro-Soeharto sbg G30SPKI dan disebut juga Gestapu (Gerakan Tiga Puluh) September oleh pro-Soekarno. Setelah pecahnya peristiwa G30SPKI, keadaan negara Indonesia berubah total 180 derajat dari berbagai sisi. Terjadi kudeta terencana yang mengubah isi Supersemar 1966, yg akhirnya isi dari surat perintah itu disalahartikan.

Dalam Supersemar, Soekarno memberi mandat untuk mengatasi keadaan negara yang kacau kepada Soeharto, bukan menjadikannya presiden. Probe Maret-April 1996, Lisa Pease menulis bahwa pada November 1965, Forbes Wilson ditelepon Ketua Dewan Direktur FREEPORT, Langbourne Williams. Langbourne Williams menanyakan kpd Forbes Wilson, “Apakah FREEPORT sudah siap untuk mengekplorasi gunung emas di Irian Barat?” Forbes Wilson kaget dan tidak percaya tentang pertanyaan itu mengingat kerasnya Soekarno menentang perusahaan asing. Ketika itu Soekarno masih sah sebagai presiden RI hingga 1967, lalu darimana Williams yakin gunung emas di Irian Barat akan jatuh ke FREEPORT?

Petinggi FREEPORT sudah mempunyai kontak dengan tokoh penting dalam lingkaran elit RI. Maka usaha Freeport untuk masuk ke Indonesia akan mudah. Namun penandatanganan kontrak dengan FREEPORT dilakukan oleh menteri Pertambangan selanjutnya yaitu Ir. Slamet Bratanata. Selain itu juga ada seorang bisnisman sekaligus “makelar” untuk perusahaan-perusahaan asing yaitu Julius Tahija. Julius Tahija berperan sebagai penghubung antara Ibnu Soetowo dengan FREEPORT.
Dalam bisnis Julius Tahija menjadi pelopor keterlibatan pengusaha lokal dgn perusahaan multinasional, termasuk PT. FREEPORT Indonesia. Sedangkan Ibnu Soetowo sendiri sangat berpengaruh di dalam TNI AD, karena dialah yang menutup seluruh anggaran operasional mereka.

Sebagai bukti: Pengesahan UU No 1/1967 Penanaman Modal Asing yang dirancang di Jenewa, didektekan oleh Rockefeller-Bilderberger. Maka, FREEPORT menjadi perusahaan asing pertama yang kontraknya ditandatangani Soeharto. Bahkan beberapa bulan sebelumnya pada 28 Februari 1967 secara resmi pabrik BATA juga diserahkan oleh Pemerintah RI kepada pemiliknya. Penandatanganan perjanjian pengembalian pabrik Bata dilakukan pada bulan sesudahnya, yaitu tanggal 3 Maret 1967. Penandatangan penyerahan kembali pabrik Bata dilakukan oleh Drs. Barli Halim, pihak Indonesia dan Mr. Bata ESG Bach.

Perjanjian pertama Indonesia - FREEPORT untuk mengeksploitasi tambang di Irian Jaya ditandatangani pada 7 April 1967. FREEPORT diperkirakan menginvestasikan 75 hingga 100 juta US$ dalam perjanjian tanggal 7 April 1967 itu. Penandatanganan dilakukan di Departemen Pertambangan RI. Indonesia diwakili oleh Menteri Pertambangan Ir. Slamet Bratanata. FREEPORT diwakili Robert C. Hills (Presiden Freeport Shulpur) & Forbes K. Wilson (Presiden Freeport Indonesia), anak perusahan di Indonesia. Penandatanganan perjanjian disaksikan pula oleh Duta Besar AS utk Indonesia, Marshall Green. FREEPORT mendapat hak konsensi lahan penambangan seluas 10.908 ha untuk kontrak 30 tahun lamanya di Papua.

Pada Desember 1972 pengapalan 10.000 ton tembaga Papua pertama kali dilakukan dengan tujuan Jepang dari FREEPORT. Kontrak inilah yang kemudian menjadi dasar penyusunan UU Pertambangan No. 11 tahun 1967 yang disahkan pada Desember 1967. Jika di zaman Soekarno kontrak-kontrak perusahaan asing menguntungkan Indonesia, sejak Soeharto berkuasa, kontrak-kontrak itu merugikan Indonesia. Setelah itu juga ikut ditandatangani kontrak eksplorasi nikel di Irian Barat area Waigee Sentani oleh PT Pacific Nickel Indonesia. Perjanjian dilakukan E. OF Veelen (Koninklijke Hoogovens), Soemantri Brodjonegoro (Menteri Pertambangan RI) & RD Ryan (U.S. Steel). Pacific Nickel Indo - yg didirikan Dutch Koninklijke Hoogovens, Wm.H.M√úLLER, US Steel, Lawsont Mining&Sherritt Gordon Mines Ltd.

Banyak keganjilan dan konspirasi terselubung dalam perjanjian-perjanjian pertambangan ini. Ada beberapa fakta terkait hal tsb. Penambangan oleh FREEPORT, apakah mereka benar-benar menambang tembaga? Tidak! namun juga EMAS! Diperjanjiannya tertulis Tembaga saja. Pada masa itu tak ada media, bagaimana jika semua ahli geologi Indonesia dan para pejabat yang terkait di dalamnya diberi setumpuk uang? Penambangan oleh Pasific Nickel apakah mereka benar-benar menambang nikel? Mereka menambang PERAK, namun diperjanjiannya tertulis NIKEL! Begitulah perjanjian-perjanjian pengeksplotasian tambang Indonesia dilakukan tak wajar, tak adil dan terus-menerus sampai sekarang.

Kekayaan alam Indonesia pun digadaikan, terjual, dirampok, tanpa mensejahterakan rakyat Indonesia selama puluhan tahun. Untuk membangun pertambangan emas itu, FREEPORT mengandeng Bechtel, perusahaan AS yang banyak mempekerjakan pentolan CIA. Direktur CIA John McCone memiliki saham Bechtel, sedang mantan Direktur CIA Richards Helms sebagai konsultan internasional pada 1978. Tahun 1980 FREEPORT menggandeng McMoran milik Jim Bob Moffet dan menjadi perusahaan raksasa dengan laba >1,5 miliar US$/tahun.

Pada 1996, seorang eksekutif FREEPORT-McMoran, George A.Maley, menulis buku berjudul “Grasberg” setebal 384 halaman  -> http://adf.ly/18UyYr

Buku Grasberg memaparkan tambang emas Papua memiliki deposit terbesar dunia dan tembaganya menempati urutan ketiga terbesar di dunia. Data 1995 menunjukkan jika area ini tersimpan cadangan tembaga kurang lebih 40,3 miliar US$ dan akan menguntungkan 45 tahun ke depan. Maley dengan bangga menulis jika biaya produksi tambang emas dan tembaga terbesar di dunia yang ada di Papua adalah yg termurah didunia! Istilah Tembagapura itu salah. Seharusnya EMASPURA. Karena gunung itu memang gunung emas, walau juga mengandung tembaga. Karena kandungan emas-tembaga terserak di permukaan tanah, FREEPORT tinggal memungut dan kemudian menggalinya dengan sangat mudah.

FREEPORT membangun pipa-pipa raksasa dari Tambang Grasberg (Grasberg Mine) sepanjang 100 km langsung menuju ke Laut Arafuru. Di Laut Arafuru telah menunggu kapal-kapal besar yang akan mengangkut emas dan tembaga itu ke Amerika. Kesaksian reporter CNN yang diizinkan meliput areal FREEPORT dari udara melihat gunung emas yang ditahun 90-an telah berubah menjadi lembah. FREEPORT mengambil emas dan meninggalkan limbah beracun yang mencemari sungai dan tanah Papua hingga ratusan tahun kedepan. FREEPORT juga merupakan ladang uang haram bagi para pejabat negeri ini di era Soeharto, dari sipil hingga militer.
FREEPORT sendiri menganggarkan dana untuk itu yg jumlahnya sangat besar bagi kita, tapi bagi mereka terbilang kecil karena besarnya laba emas. Itu pula yang menjadi sebab siapapun presiden RI kedepannya, tak akan pernah mampu untuk mengubah perjanjian dan keadaan ini. Bila ada yang berani mengganggu FREEPORT, maka mereka akan menggunakan sluruh kekuatan politik, media, dan militernya utk menyerang kembali. Kerusuhan, adu domba, agen rahasia, mata-mata, akan disebar agar rakyat merasa tak aman, tak puas, dan meruntuhkan kepemimpinan tersebut.

Inilah warisan orde baru (NEW ORDER=New World Order) di era kepemimpinan rezim dan diktator Soeharto selama kurang lebih tiga dekade. Soeharto The Smilling General, presiden satu-satunya di dunia yang sudi melantik dirinya sendiri menjadi Jenderal bintang lima! Soeharto sukses menjual kekayaan alam dari dasar laut hingga puncak gunung, dari Sabang-Merauke, yaitu negeri tercinta, Indonesia.

Kami tidur di atas emas, berenang di atas minyak, tapi bukan kami punya. Kami hanya menjual buah-buah pinang - Papua.

Generasi muda Indonesia perlu menyadari betapa KAYA negeri ini! INDONESIA.

Beberapa sumber terkait pembahasan FREEPORT bisa Anda baca di Kaskus http://adf.ly/18V0ET 
 "Kutitipkan Bangsa & Negara ini kepadamu" - Soekarno. Semoga Tuhan memberkati Indonesia.


SUMBER


Comments
0 Comments

Artikel Lain

ShareThis

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...