Pages

Pak Ponit, Ontelis Pemulung Rongsokan



Kali pertama akan kudekati, beliau segera bergegas sepertinya “ketakutan” atau dianggapnya hendak menyuruh pergi. Pada hal, tak ada niatan seburuk sangka tersebut dalam hatiku. Ia nampak segera bergegas memasukkan barang bekas usai mengais di tempat sampah depan rumah, lantas ngeloyor entah ke mana….

Sekitaran tiga bulan lalu, orang ini memang sering kulihat memarkir sepedanya dekat tumpukan sampah kering di depan rumah. Mulanya kuamati dari balik jendela, beliau cermat sekali memilah-milah dan memilih barang yang diambilnya di tempat pembuangan itu.

Walau pun tak setiap hari, namun dalam interval waktu tiga atau empat hari sekali seorang bapak paruh baya tersebut > yang ternyata sebagai pemulung akrab dengan sepeda kumbangnya dilengkapi keranjang tampungan barang bekas, selalu tekun melakoni pekerjaannya.

Selang beberapa hari, kali kedua di saat berbeda, ketika diriku keluar rumah sambil membawa sejumlah botol plastik bekas minuman dan kipas angin rusak kuberikan > maka sejak itulah beliau mau sedikit berbincang dan terjalinlah komunikasi. Ia menjalani pekerjaan memulung barang bekas > untuk menambah penghasilan, dua anaknya masih sekolah memerlukan tambahan biaya harus dicukupi. Demikian awalnya berujar padaku.

Pak Ponit, begitu beliau menyebut namanya, setiap pagi hingga siang berkeliling di kawasan Bangunharjo dan Panggungharjo, Sewon, Bantul, dari tempat ke tempat sampah lain, mendatangi setiap rumah warga yang menyediakan tempat pembuangan sampah > mengais barang bekas seperti kardus, botol minuman plastik, logam, atau besi tua yang sudah dibuang oleh pemiliknya.

Menurut pengakuannya, barang-barang rongsok (baca: bekas) dikumpulkan untuk disetorkan ke pengepul guna memeroleh imbalan sejumlah uang. “Ee..walah mas, timbang nganggur, kulo lakoni gresek-gresek damel nambah hasil (daripada di rumah menganggur, saya lakukan kerja cari barang bekas ini demi menambah uang),” ungkapnya sambil mengemas barang bekas yang telah dikaisnya.

Ehm…, ternyata melalui sentuhan komunikasi awal, membuat ia kenal denganku. Maka sejak itulah Pak Ponit yang sedikit bicara dan selalu tampil bersahaja lantas kuanggap sebagai sahabat baru. Sahabat dalam kebersihan sekaligus menjaga lingkungan, agar tetap rapi, sehat, nyaman, menghindari dampak negative atas buangan sampah/barang bekas supaya tak berserakan dan menjadi sarang nyamuk.

Kali ketiga bertemu dengannya, rupanya merupakan timing yang pas untuk berbincang relatif lebih lama. Di samping sudah kenal, maklum pula kala itu hari libur > kusempatkan belajar memahami kehidupannya. Mulai dari keluarga, tempat tinggal dan kegiatan beliau dari waktu ke waktu hingga perjalanan memulung beserta perolehannya..

Dalam perbincangan santai sambil sesekali kusentuh guyonan, ternyata beliau tergolong pelit senyum. Namun ketika kusentuh lagi dengan info yang rada-rada dekat dengan ragam jenis barang rongsok/bekas yang menjadi “targetnya” > barulah mulai angkat bicara, merespons. “Menawi wonten kertas-kertas utawi dos/kardus, kaleng roti bekas, botol minuman beling, kulo nggih purun, mas (= kalau ada kertas/kardus, kaleng roti bekas, botol minuman gelas/kaca, saya juga mau, mas),” memulai celotehnya.

Tentu saja mendengar hal demikian, bisa kuambilkan segepok kertas-kertas kerja, kardus dan koran bekas yang sudah tak terpakai, diterimanya dengan wajah girang…dan segera dimasukkan atau ditata ke dalam kronjot/keranjang barang di bagian belakang sepedanya.

Di tengah suasana santai penuh keakraban, sekaligus menjadikan Pak Ponit sebagai sahabat > diriku pun punya banyak waktu berbincang lebih jauh perihal kedatangan beliau ke rumah/tempat tinggalku.

Pada kesempatan itu pula kusampaikan pesan > terutama terkait “kerjasama dalam transaksi sosial” tentang pulung-memulung. “Aturan main” kita bicarakan bersama antara lain: (1) segera kusediakan tempat khusus barang bekas untuk Pak Ponit, silakan ambil di sana (2) di luar tempat tersebut, barang-barang milik penghuni tak diperkenankan untuk diambil/dipulung, (3) ikut menjaga agar sampah-sampah tidak berserakan di halaman rumah. Dan itu semua disepakati Pak Ponit - sambil mengangguk - pertanda ia setuju.

He-he… singkat kata, hanya berbekal sentuhan komunikasi empatik, membincangkan sesuatu yang dekat dengan dirinya (proksimitas), dan memenuhi kepentingan yang diperlukannya > ternyata kontak dan konek terbangun antara diriku dan pemulung. Hal ini menjadikan suasana terjaga dalam artian aman, bersih, lebih rapi, barang-barang bekas bisa dimanfaatkan bagi (Pak Ponit) yang membutuhkan.

Perlu pula diketahui bahwa di lingkunganku memang tergolong rumah permukiman tak berpagar, semua orang boleh masuk, tak pula ada tulisan > “Tamu Harap Lapor” atau “Pemulung Dilarang Masuk.” Di halaman depan hanya ada  beberapa tanaman/pohon perdu, tempat duduk sederhana, halaman parkir, dan di bagian pojok halaman tersedia tempat buangan sampah/barang bekas.

Hingga kini, bagi pemulung (terutama Pak Ponit) sudah terbiasa atau tak segan-segan untuk datang memulung barang bekas, karena tempatnya sudah disediakan. Bahkan kalau penghuni lupa menaruh barang bekas, Pak Ponit mengetuk pintu rumah secara sopan untuk menanyakan apakah ada barang-barang yang bisa dibawanya. Kalau pun tak ada, belaiu tetap berpamit diri untuk meneruskan tugas berkeliling kampung.

Perbincanganku bersama Pak Ponit ini telah kusebarkan kepada seluruh penghuni > supaya terjadi pengertian dan persepsi yang sama untuk selanjutnya bisa memahami setiap kedatangan Pak Ponit ketika hendak mengumpulkan barang-barang yang sudah tak terpakai.

Nah, melalui pendekatan yang cukup sederhana, tanpa saling curiga-mencurigai dan kita selalu berpikiran positif > ternyata hidup kita pun berjalan menuju harmoni sosial. Terimakasih Pak Ponit, sahabatku yang setia, bahkan setiap waktu tertentu selalu bertanya atau memohon santun kepada setiap penghuni tatkala hendak memulung. Dan tentunya terimakasih pula > beliau telah menjalin “kerjasama” demi kebersihan lingkungan yang saling menyenangkan…


sumber : http://sosbud.kompasiana.com/2012/10/06/sahabat-baruku-pak-ponit-bersepeda-kumbang/